Maulid Nabi, IPPAT NTB Dorong Keteladanan Menjadi Etika Profesi
MATARAM — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tak semestinya berhenti pada seremoni. Bagi profesi yang bersentuhan langsung dengan kepastian hukum dan hak masyarakat atas tanah, keteladanan Rasulullah justru menemukan relevansinya pada satu perkara mendasar: amanah.
Pesan itu disampaikan Dr. Saharjo, S.H., M.Kn., M.H., Ketua Pengurus Wilayah Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah Nusa Tenggara Barat, dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, 25 Agustus 2026.
Menurut Saharjo, nilai shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah perlu diterjemahkan ke dalam perilaku profesional PPAT. Integritas, kehati-hatian, keterbukaan, dan keberanian menjaga kebenaran hukum tidak boleh sekadar menjadi jargon organisasi.
“Maulid Nabi harus membawa kita dari shalawat menuju keteladanan. Bagi PPAT, mencintai Rasulullah juga harus terlihat dari cara kita menjaga amanah, melayani masyarakat, dan memastikan setiap kewenangan dijalankan dengan jujur serta bertanggung jawab,” kata Saharjo.
Ia menilai posisi PPAT cukup strategis karena berada pada titik pertemuan antara negara, hukum pertanahan, investasi, dan kepentingan masyarakat. Kesalahan kecil dalam menjalankan kewenangan dapat menimbulkan persoalan besar. Sebaliknya, profesionalitas yang dibangun di atas integritas dapat menjadi benteng bagi kepastian hukum.
Karena itu, Pengurus Wilayah IPPAT NTB mendorong Maulid Nabi menjadi momentum muhasabah profesi: bukan hanya memperbanyak shalawat, tetapi juga memperbaiki kualitas pelayanan dan memperkuat keberpihakan pada kepastian serta keadilan hukum.
“Jabatan memberi kewenangan, tetapi keteladananlah yang memberi kehormatan. PPAT harus hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan akta, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan kepastian dan rasa aman dalam hukum,” ujar Saharjo.
Bagi IPPAT NTB, pesan Maulid itu sederhana: shalawat diucapkan, keteladanan dikerjakan, dan amanah dijaga.
Saharjo Lombok

0 Komentar